STOP !!! JANGAN SEMPROTKAN CAIRAN DISINFETAN KE TUBUH

STOP !!! JANGAN SEMPROTKAN CAIRAN DISINFETAN KE TUBUH

Senantiasa kurangkai kalimat terbaik, do’a yang tulus dan harapan yang indah disetiap lipatan waktu, untuk kita mom’s. Agar kita dan keluarga senantiasa selamat, aman, nyaman terhindar dari wabah, bencana, ketakutan, kegelisahan, kepanikan yang tak berujung saat ini. Khususnya akibat wabah pademik Virus Corona Covid-19 ini.

Sejak pandemi virus Corona Covid-19 melanda bumi nusantara, setidaknya sampai hari ini suda lebih dari 8.000 orang terinfeksi. Hal ini menimbulkan kepanikan massal di msyarakat sejak hari pertama kemunculannya. Bahkan orang-orang melakukan panic buying dengan membeli kebutuhan rumah tangga dalam jumlah besar, harga masker kian tinggi, hingga rempah yang diyakini sebagai immune booster pun mulai sulit didapatkan.

Sindrom ini sepertinya tidak hanya menyerang masyarakat, tetapi juga instansi bahkan sampai lembaga pemerintah. Terbukti dengan maraknya implementasi work from home dan study from home. Hal ini menyusul setelah ramai tagar #stayathome digaungkan berbagai pihak.

Bahkan akhir-aakhir ini sejumla kalangan memilih menyemprotkn cairan disinfektan kesegala arah. Tidak hanya pada benda mati, tapi juga pada benda hidup termasuk manusia. Hal ini dilakukan guna mengadapi pandemik virus Corona agat tidak menyebar kemana-mana.

Dan penggunaan disinfektan semacam ini semakin marak di sejumlah wilayah di Indonesia, seperti di tempat ibadah, gedung, pintu gerbang perumahan dan tempat publik lainnya dengan membuat bilik disinfektan atau chamber.

Baca Juga: Cegah Penyebaran Virus Corona

BILIK DISINFEKTAN ATAU CHAMBER

Bilik disinfektan atau chamber adalah suatu tempat yang disedikan khusus untuk menyemprotkan cairan disinfektan pada tubuh manusia yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet didalamnya. Cara kerjanya adalah dengan menyemprotkan cairan disinfektan dari berbagai arah ketika manusia masuk kedalamnya. Apaka mom’s pernah mengalaminya?

Tidak hanya masyarakat, pemerintah juga meyakini bahwa penyemprotan seperi itu dapat membunuh berbagai macam virus, ttermasuk virus Corona yang menempel pada tubuh serta permukaan pakaian, tas, sepatu dan barang yang dibawa orang tersebut.

APAKAH BILIK DISINFEKTAN EKEKTIF?

Inilah pentingnya membaca, jadi tidak akan latah ikut-ikutan saja. Seharusnya penggunaan bilik disinfektan ini tidak boleh sembarangan, melainkan harus memenuhi standar keamanan yang tepat.

Pada umumnya, bilik disinfektan ini digunakan di pintu laboratorium medis, dimana orang yang masuk kedalamnya harus menggunakan alat pelindung diri yang lengkap seperti masker, sarung tangan, dan baju hazmat. Jadi bukan semprot sembarangan, apalagi langsung ke tubuh manusia.

Dan ternyata penggunaan bilik disinfektan untuk mencegah penyebaran virus Corona yang dilakukan di Indonesia ini tidak direkomendasikan oleh World Helath Organization (WHO). Hal ini disebabkan, adanya beberapa kandungan zat kimia dalam larutan disinfektan seperti alkohol dan klorin.yang justru berisiko membahayakan kesehatan tubuh, jika mengenai pakaian dan permukaan kulit atau selaput lendir manusia, seperti higung, mata, dan mulut.

Tidak hanya bahan klorin dan alkohol, penggunaan sinar ultraviolet dengan konsentrasi yang berlebihan dalam bilik disinfektan untuk membunuh virus, bakteri, dan mikroorganisme pada jangka panjang ternyata berpotensi menimbulkan kanker kulit, apalagi jika ini diberlakukan setiap hari dan berulang.

Lagian nih mom’s, sebenarnya kan kandungan alkohol, klorin, dan hidrogen peroksida pada cairan disinfektan yang disemprotkan pada tubuh juga tidak dapat membunuh virus yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh.

MENYEMPROT CAIRAN DISINFEKTAN KE TUBUH MANUSIA SANGATLAH BERBAHAYA

Bahkan lagi ya mom’s, ada sebagian masyarakat yang langsung menyemprotkan cairan disinfektan ke tubuh. Misalnya, menyemprot orang-orang yang akan masuk ke pemukiman, perumahan, atau gedung lainnya.

Begini mom’s… pada prinsipnya sama antara bilik disinfektan dengan menyemprotkan cairan disinfektan langsung ke tubuh manusia. Yaitu untuk membunuh berbagai macam virus dan mikroorganisme yang menempel pada tubuh serta permukaan benda mati yang mereka bawa.

Tapi faktanya, justru kandungan alkohol, klorin, dan hidrogen peroksida dalam cairan disinfektan itu dapat bersifat karsinogenik (penyebab kanker dan beracun), apabila terhirup dalam jangka panjang.

Dan apabila terkena kulit atau selaput lendir manusia, seperti hidung, mata, dan mulut dapat mengikis lapisan tersebut sehingga menimbulkan iritasi. Akibatnya, justru kuman akan lebih mudah masuk ke area tubuh dan menimbulkan peradangan. Nah, jika kuman saja mudah masuk, apalagi virus yang ukurannya lebih kecil.

Jadi mom’s ingat ya… alkohol, klorin, dan hidrogen peroksida hanya boleh digunakan sebagai bahan disinfektan untuk membunuh mikroorganisme yang terdapat di permukaanbenda mati seperti jalanan, pagar, kendaraan, perabot rumah tangga yang banyak disentuh orang, dan lain-lain.

Jadi kesimpulan yang dapat saya buat disini adalah, menyemprotkan cairan disinfektan ke tubuh manusia bukanlah cara efektif mencegah penularan virus Corona. Jadi sebaiknya hentikan sekarang juga.

Jika ingin mencegah penularan virus Corona, maka cara terbaik yang harus dilakukan adalah dengan mencuci tangan dengan rutin dan benar, social distancing, stay at home, terapkan etika batuk dan bersin, memakai masker, tingkatkan imunitas, cuci bahan makanan, jangan menyentuh wajah, hindari kontak langsung, dan bersihkan perabot rumah secara rutin.

Sudah paham ya mom’s, ingat jangan semprotkan cairan disinfektan ke tubuh. Sampai jumpa pada artikel berikutnya…

(GBMP) GERAKAN BERJEMUR MATAHARI PAGI JAM BERAPAKAH TEPATNYA, MANFAAT DAN TIPS SEHAT

(GBMP) GERAKAN BERJEMUR MATAHARI PAGI JAM BERAPAKAH TEPATNYA, MANFAAT DAN TIPS SEHAT

Apakabar mom’s…

Mom’s masih ingatkah ini sudah hari keberapa semenjak tagar stay at home, study from home, work from home dan atau yang sejenisnya diinstruksikan demi menjaga semuanya dari penyebaran pandemi virus corona?

Pastinya, sejak wabah virus Corona merebak, anjuran melakukan berbagai hal untuk menghambat penyebarannya sangat masif dilakukan. Sebagiannya ya dengan itu tadi, stay at home, study from home, and work from home. Adapun salah satu aktivitas yang dianjurkan selama program stay at home adalah berjemur di pagi hari agar tetap sehat.

Sebelum pandemi virus Corona mewabah di bumi nusantara, pasti setiap bayi yang lahir dalam kondisi normal akan mendapatkan anjuran dari tenaga kesehatan yang menolong proses kelahirannya untuk dijemur matahari pagi. Hal ini tanpa alasan, pasalnya mbisa membantu bayi mendapatkan vitamin D, meningkatkan kaadar serotonin, meningkatkan kadar insulin, menyehatkan sistem saraf dan meningkatkan imunitas, mempercepat pembekuan darah, mencegah penyakit kuning dan bayi bisa tidur lebih nyenyak.

Tapi sejak pandemi ini mewabah, gerakan berjemur matahari pagi mulai digaungkan untuk mengisi aktivitas program stay at home. Tidak hanya untuk bayi, anjuran ini kini ditujukan untuk semua orang dengan berbagai tingkatan usia. Dengan harapan terbesarnya, berjemur matahari pagi dapat membantu seseorang meningkatkan imunitas sehingga memiliki kekebalan tubuh yang baik di masa pandemi virus Corona seperti ini.

Baca Juga: Mengenal Lebih Jelas Tentang Virus Corona

Waktu Terbaik Berjemur Di Bawah Sinar Matahari

Semua sudah sepakat bahwa berjemur matahari pagi sangatlah bermanfaat meningkatkan sistem imunitas tubuh sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Corona.

Namun, belakangan ini terjadi perdebatan waktu berjemur yang semakin ramai diperbincangkan di media sosial.  Ada yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan hasil vitamin D dari paparan sinar matahari, waktu yang tepat untuk berjemur adalah di atas pukul 10.00 wib. Tetapi ada yang menyanggah bahwa sinar matahari yang paling baik untuk berjemur adalah pukul 07.00-09.3 wib pagi.

Polemik ini tentu menimbulkan banyak kebimbangan di hati masyarakat ya mom’s… Kira-kira saran mana nih yang harus diikuti?

Begini mom’s, hal ini sudah pernah diteliti oleh Prof. Dr. Siti Setiati, Sp.PD-KGER aalah seorang dokter ahli gerontologi (ilmu penuaan) dari RS. Cipto Mangunkusomo. Berdasarkan hasil penelitian Prof. Siti,penelitian biomedis dan bioinformatika nasional center for biotechnology (NCBI), diketahui bahwa intensitas ultraviolet B (UVB) tertinggi ada pada pukul 11.00 wib sampai pukul 13.00 wib.

Berdasarkan hal itu, jika ingin mendapatkan vitamin D dari paparan sinar matahari pagi, maka waktu terbaik untuk berjemurnya ada pada pukul 11.00-13.00 wib. Namun, jika manfaat yang ingin diambil adalah untuk berolahraga maka memang sebaiknya dilakukan pada pagi hari puluk 09.00 wib ke bawah, dan bisa dilakukan sekitar 30 hingga 60 menit.

Adapun sebaliknya, jika ingin meningkatkan kadar vitamind D dan untuk imunitas bisa dilakukan dengan berjemur matahari pagi pada pukul 10.00 wib hingga pukul 14.00 wib selama 5 hingga 15 menit saja.

Atau begini mom’s, World Health Organization (WHO) secara umum mengelompokkan indeks UV menjadi 1-10. Dimana 1 merupakan kadar UV terendah (yaitu pada jam 09.00 – 10.00 wib), dan 10 adalah kadar UV paling tinggi (yaitu di atas jam 10.00 wib).

Pada prinsipnya, saat indeks UV rendah maka kadar UV pun rendah sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk mendapatkan manfaat berjemur di bawah sinar matahari yang optimal agar tubuh menghasilkan vitamin D.

Bagaimana mom’s sudah jelaskan kapan waktu terbaik untuk melakukan berjemur sinar matahari? Tepat sekali, semua tergantung dari tujuan atau manfaat yang ingin didapatkan.

Manfaat Berjemur di Bawah Matahari

Mom’s harus tahu, bahwa tubuh manusia tidak dapat memproduksi vitamin D dengan sendirinya. Apalagi jika kandungan vitamin D hanya didapatkan dari jenis makanan tertentu, seperti telur dan susu.

Nah, agar kebutuhan vitamin D tubuh tercukupi maka kita bisa mendapatkannya dengan cara berjemur sinar matahari pagi mom’s.

Berikut ini manfaat berjemur di bawah sinar matahari:

Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh.

Kandungan vitamin D yang terbentuk akibat paparan sina rmatahari dapat membantu mencegah infeksi pada tubuh dan melawan penyakit, seperti serangan jantung, multiple sclerosis, beberapa jenis penyakit autoimune dan kanker, serta flu. Bukan tidak mungkin, jika rutin berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi hari dapatmeningkatkan imunitas tubuh sehingga dapat terhindar dari penyebaran virus Corona.

Memperkuat Kesehatan Rulang.

Salah satu fungsi vitamin D adalah merangsang penyerapan kalsium dan forfor yang sehingga dapat memperkuat tulang. Sebuah studi menyebutkan bahwa kandungan vitamin S3 dari sinarmatahari ternyata memiliki peran penting untuk kepadatan tulang.vitamin D3 adalah vitamin yang larut dalam lemak yang terbentuk selama proses pembuatan vitamin D saat sinar matahari mengenai kuit. Hal inilah yang dapat mengtur penyerapan kalsium.

Jadi mom’s, jika dalam darah memiliki kandungan vitamin D3 yang tinggi, maka tulang akan semakin kuat dan terhindar dari risiko oesteroporosis serta arthritis.

Mengurangi depresi ringan.

Kekurangan paparan sinar matahari dapat menyebabkan terjadinya Seasonal Affective Disorder (SAD), ia merupakan kondisi depresi umum ringan yang dapat terjadi pa orang-orang yang bekerja berjam-jam di gedung perkantoran dan jarang keluar ruangan untuk berjemur.

Hasil studi melaporkan bahwa orang-orang yang berjemur di bawah sinar matahari pagi dapat terhindar dari stres. Pasalnya, sinar matahari pagi memicu otak untuk meleas hormon serotonin, yakno suatu ormon yang bisa meningkatkan suasana hati dan memberikan perasaan tenang. Bahkan jika tidak depresi sekalipun, ternyata berjemur di bawa sinar matahari pagi dapat membangkitkan suasana hati menjadi lebih baik.

Meningkatkan kualitas tidur.

Jadi mom’s, ketika sinar matahari mengenai mata, sebuah pesan segera dikirim ke kelenjar pinel dalam otak dan memproduksi melantonin. Melantonin adalah hormon yang menimbulkan rasa kantuk. Dan ini akan ditutup sampai waktu sore lagi. Sinar matahari akan membuat tubuh memiliki gambaran yang jeas bahwa ini bukanlah malam hari sehingga tubuh akan mempertahankan ritme sirkandian yang normal. Sebaliknya, ketika di luar mulai gelap maka tubuh akan mendaptkan gambaran yang jelas sehingga merasa lelas dan mengantuk menjelang waktu tidur.

Menyembuhkan Penyakit Kulit.

Ternyata sinar matahari bisa membantu proses penyembuhan penyakit kulit lho mom’s, seperti jerawat, psoriasis, eksim, penyakit kuning dan infeksi penyakit kulit lainnya.

Bagaimana Sinar Matahari Menghasilkan Vitamin D

Sebenarnya bukan sinar matahari yang mengandung vitamin D mom’s. Tetapi, ketika kulit terpapar sinar matahari yang mengandung ultraviolet B (UVB), maka secara ototmatis tubuh akan merubahnya menjadi vitamin D. Kemudian, vitamin D hasil dari produksi itu akan langsung disalurkan ke hati dan ginjal.

Agar Berjemur Tetap Aman

Berjemur di bawah sinar matahari memang baik untuk kesehatan, tapi jika salah penerapan justru bisa berakibat fatal lho mom’s. Berikut ini tips yang bisa dicoba:

  • Gunakan lotion yang mengandung minimal SPF 30 pada permukaan kulit wajah dan seluruh tubuh kecuali area mata, dan oleskan 30 menit sebelum berjemur.
  • Cahaya matahari terbaik adalah menyinari tubuh secara langsung, jadi bukan hanya sekedar membuat keringat ya mom’s.
  • Gunakan pakaian lengan panjang (pilihlah warna terang agar sinar matahari dapat mengenai kulit tubuh dengan maksimal), kacamata hitam, dan topi. Terlebihh jika ingin berjemur diatas jam 10.00 wib pagi.
  • Lakukan aktivitas lain saat berjemur, seperti membaca, jalan santai, menyiram bunga, menyapu halaman, dan lain sebagainya.
  • Minum yang banyak jika ingin berjemur lebih lama, agar tidak dehidrasi.
  • Sudahi berjemur jika kulit mulai terasa panas ya mom’s.

Praktis ya mom’s, selamat mencoba.

Oh iya, harus diperhatikan ya mom’s… berjemur di bawah sinar matahari pagi bukanlah untuk mematikan virus Corona, tetapi hanya untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Apabila daya tahan tubuh baik maka ia akan lebih kuat melawan berbagai macam infeksi tubuh oleh sebab apapun termasuk oleh virus Corona. Wallahu’alam…