fbpx

Jauhkan Pestisida Dari Anak-Anak

Jauhkan pestisida dari anak-anak

Jauhkan pestisida dari anak-anak- Setelah enam bulan si Kecil hanya mengonsumsi ASI, kini saatnya mengenalkan si Kecil pada makanan padat. Antara buah atau sayur, manakah yang Ibu pilih sebagai makanan bayi pertamanya?

Apa pun pilihannya, yang penting Ibu harus berhati-hati dengan bahaya pestisida yang terkandung di bahan makanan si Kecil. Seperti yang Ibu mungkin sudah tahu, racun pembasmi hama yang menempel pada sayur dan buah tersebut, bisa membahayakan kesehatan si Kecil jika ikut disantap.

Jauhkan Pestisida Dari Anak-Anak- Untuk meminimalisir kandungan pestisida dalam buah dan sayur pada makanan bayi, yuk simak tiga kiat cerdas berikut ini:

Pilih yang Segar

Saat membeli bahan-bahan untuk membuat makanan bayi, pilihlah sayur dan buah yang masih dalam kondisi segar. Pastikan teksturnya tidak terlalu lembek, tidak memiliki kotoran atau titik busuk pada kulitnya, serta merupakan produk lokal.

Mengapa? Sayur dan buah yang diimpor umumnya memiliki kandungan pestisida lebih tinggi, agar lebih awet, terlihat lebih menarik dan mencegah kebusukan selama pengiriman. Jadi, jangan mudah tergiur dengan buah dan sayuran impor ya, Bu!

Jauhkan Pestisida Dari Anak-Anak- Cuci dengan Bersih

Sangat penting untuk mencuci sayur dan buah sampai benar-benar bersih sebelum diolah menjadi makanan bayi. Rendam dahulu sayur dan buah yang akan digunakan dalam air dingin selama 2 menit, kemudian bilas dan gosok permukaannya di bawah air mengalir selama kurang lebih 30 detik.

Hal ini juga berlaku untuk seluruh sayur dan buah yang akan dikupas. Sebab pestisida bisa menempel pada pisau yang digunakan, dan mencemari daging buah atau bagian dalam sayur apabila kulitnya tidak dicuci terlebih dahulu.

Jauhkan Pestisida Dari Anak-Anak- Pertimbangkan Produk Organik

Meski harganya lebih mahal, sayur dan buah organik jauh lebih aman digunakan untuk meramu makanan bayi, karena tidak menggunakan pestisida selama proses penanaman. Ada 12 produk yang paling tinggi kandungan pestisidanya, atau disebut juga Dirty Dozen, yang perlu Ibu perhatikan. Mereka adalah apel, stroberi, anggur, seledri, peach, bayam, paprika, ketimun, tomat, kentang, kacang buncis, dan selada. Untuk 12 produk tersebut, pastikan Ibu membeli yang organik, ya.

Namun, jika kesulitan mendapatkan produk organik untuk buah dan sayur tersebut, tak perlu terlalu khawatir. Cukup pastikan Ibu lebih teliti saat mencuci maupun mengolahnya, untuk menghindarkan ancaman pestisida. Selain itu, Ibu juga bisa variasikan buah dan sayur yang digunakan dalam makanan bayi agar tubuh tidak menimbun satu jenis pestisida dalam jumlah besar.

Ingat, anak-anak lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan pestisida daripada orang dewasa. Hal ini karena anak-anak sedang dalam tahap pertumbuhan dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah daripada orang dewasa. Ditinjau dari sisi berat badan, anak-anak memiliki kemungkinan terpapar pestisida dalam jumlah lebih banyak daripada orang dewasa.

Diketahui bahwa meningkatnya paparan terhadap pestisida, yang juga dikenal dengan organofosfat, telah meningkatkan resiko terjadinya gangguan hiperaktifitas pada anak (ADHD/Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Studi yang dilakukan sekelompok peneliti dari Departemen Pertanian Amerika Serikat mengumpulkan informasi dari sekitar 1000 anak berusia 8 – 12 tahun. Anak-anak dengan kandungan pestisida di atas rata-rata dalam tubuhnya diketahui memiliki kecederungan dua kali lebih besar untuk terdiagnosa mengalami ADHD.

Menurut hasil penelitian

Penelitian ini memang hanya dilakukan untuk mengetahui dampak pestisida dalam jangka pendek. Meski demikian, menurut Mary Bouchard, Ph.D., ketua penelitian sekaligus peneliti di Departemen Kesehatan Lingkungan dan Lingkungan Kerja di University of Montreal, studi lebih lanjut akan dapat mengungkapkan hubungan yang lebih kuat antara paparan pestisida pada produk dalam tubuh dan gejala ADHD pada anak-anak.

Walaupun termasuk ringan, pestisida dirancang untuk menyebarkan racun dalam sistem, yang awalnya bertujuan untuk membasmi hama. Bouchard menyimpulkan, kaitan antara organofosfat dan gejala ADHD terletak pada reaksi otak ketika tubuh terkontaminasi pestisida yang masuk melalui makanan yang berbahan dasar hasil pertanian terpapar pestisida.

Sedangkan gangguan ADHD mengakibatkan seorang anak memiliki tingkah laku impulsif, sulit berkonsentrasi dan hiperaktif. Gangguan perilaku pada anak menyebabkan ia harus berusaha lebih keras untuk melakukan suatu aktifitas dalam kehidupan sehari-hari jika dibandingkan anak-anak seusianya.

Lalu bagaimanakah cara mencegah dampak pestisida pada anak?

Tips agar Anda terhindar dari dampak negatif pestisida

  • Usahakan mencuci tangan Anda sebelum mencuci buah dan sayuran.
  • Cuci buah dan sayur menggunakan air hangat, bisa juga ditambahkan cuka atau air jeruk lemon sebagai pembersih alami.
  • Gunakan sikat gigi bekas untuk menyikat sisa pestisida pada buah dan sayur.
  • Buang bagian terluar sayuran berdaun dan hanya konsumsi bagian dalamnya saja.
  • Jangan gunakan sabun dan deterjen untuk mencuci buah dan sayuran.
  • Sayuran dan buah organik dapat menjadi alternatif yang baik.

 

Bahaya Pestisida di Tubuh Anak

Bahaya Pestisida di Tubuh Anak

Bahaya Pestisida di tubuh anak- Tanpa disadari, paparan pestisida ada di sekeliling Anda. Bisa jadi terdapat pada sayuran maupun buah-buahan yang terkontaminasi atau memang sering digunakan untuk membasmi hama tanaman di kebun. Sebagai orangtua, hal ini perlu menjadi perhatian khusus. Pasalnya, paparan pestisida dapat membahayakan kesehatan anak hingga dua kali lebih besar ketimbang pada orang dewasa.

Lantas, apa saja bahaya pestisida untuk kesehatan anak dan bagaimana mengatasinya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Kenali sumber paparan pestisida yang sering tidak disadari

Bila Anda tidak menggunakan pestisida di lingkungan rumah bukan berarti Anda dan keluarga 100 persen terbebas dari paparan pestisida. Sebab, terdapat sejumlah benda atau media yang tanpa disadari menjadi gerbang masuknya pestisida di lingkungan rumah Anda, di antaranya:

  • Produk pembasmi nyamuk, kecoa, tikus, maupun serangga lainya
  • Sayur dan buah yang terkontaminasi pestisida
  • Pestisida yang digunakan di sekolah atau taman bermain untuk membersihkan gulma
  • Pengawet kayu yang digunakan pada alat bermain di taman, salah satunya pentachlorophenol (PCP)
  • Baju atau sepatu yang terpapar pestisida dari lingkungan luar

Paparan pestisida pada anak dimulai saat anak sering meletakkan tangan di wajah atau memasukkan tangannya ke mulut. Padahal, mereka mungkin baru saja merangkak di lantai, bermain di rumput, atau bermain di taman yang kemungkinan banyak mengandung pestisida. Karena saking banyaknya sumber pestisida di lingkungan sekitar, maka jumlah paparannya pun akan terus bertambah dengan cepat.

Gejala terkena pestisida hampir serupa dengan gejala flu, yaitu:

  • Sakit kepala
  • Kelemahan
  • Nyeri otot
  • Sesak napas
  • Mata terasa seperti terbakar,
  • dan ruam kulit.

Bila anak mulai menunjukkan gejala-gejala tersebut, segera hubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Apa saja bahaya pestisida untuk kesehatan anak?

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), bahaya pestisida semakin parah bila anak sudah terpapar sejak siklus awal kehidupan, yaitu saat masih dalam kondisi janin. Wanita yang sering terpapar pestisida saat hamil dapat meningkatkan risiko bayi lahir cacat, berat lahir rendah (BBLR), hingga kematian pada janin.

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak lebih rentan terhadap paparan pestisida. Pasalnya, berbagai sistem organ tubuh anak seperti sistem saraf, sistem pencernaan, dan sistem kekebalan tubuhnya masih dalam tahap perkembangan. Hal inilah yang menyebabkan tubuh anak masih belum mampu mendetoksifikasi dan mengeluarkan berbagai polutan dengan baik seperti orang dewasa.

Selain itu, anak-anak bernafas dua kali lebih banyak daripada orang dewasa sehingga jumlah polutan yang dihirup pun menjadi dua kali lebih besar. Maka tidak heran bila anak-anak jauh lebih rentan terkena bahaya pestisida.

Untuk mengetahui bahaya pestisida pada anak dapat dilihat dari dua kategori paparan, yaitu paparan akut dan paparan jangka panjang. Kedua kategori ini memberikan tingkat keparahan yang berbeda-beda untuk kesehatan anak. Mari kita kupas satu persatu.

Paparan akut

Paparan akut yaitu paparan pestisida dalam jumlah yang banyak dalam waktu  yang cukup singkat. Ambil contoh, seorang anak duduk di ruangan saat penyemprotan. Artinya, anak terkena paparan pestisida dalam jumlah yang besar di waktu yang singkat. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya masalah kesehatan jangka pendek, di antaranya:

  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Kelemahan
  • Sensasi kesemutan
  • Mual

Paparan jangka panjang

Paparan jangka panjang  yaitu paparan pestisida yang terjadi secara bertahap selama periode waktu tertentu. Akumulasi paparan ini menyebabkan masalah kesehatan yang lebih berat daripada paparan akut, di antaranya:

  • Bayi cacat lahir
  • Kesulitan belajar pada anak
  • Perubahan perilaku
  • Gejala asma
  • Kerusakan organ
  • Memicu kanker, termasuk leukemia, kanker payudara, dan tumor otak

Tips mengurangi paparan pestisida pada anak

Awasi setiap bahan makanan

Bahan makanan seperti buah dan sayur, merupakan salah satu sumber pestisida dalam rumah. Pastikan untuk mencuci buah dan sayur dengan air yang mengalir hingga bersih untuk mengurangi sisa pestisida yang menempel di permukaannya.

Simpan bahan kimia di tempat yang aman

Jauhkan produk-produk yang mengandung pestisida dari jangkauan anak-anak seperti pembasmi nyamuk, pembersih gulma, atau produk khusus hewan peliharaan. Simpan di lemari khusus yang tidak berdekatan dengan tempat menyimpan bahan makanan.

Jangan libatkan anak saat memberi pupuk untuk tanaman

Anak-anak sebaiknya tidak ikut serta saat memberikan pupuk agar terhindar dari paparan pestisida. Jauhkan anak dari kebun atau tanaman yang diberikan pupuk kimia hingga 24 jam. Baru setelah itu anak-anak diperbolehkan untuk kembali bermain di taman dengan lebih aman.

Saat Anda berkebun, sebaiknya juga gunakan sarung tangan. Usai berkebun, segera cuci tangan dengan sabun dan air mengalir untuk membersihkan sisa-sisa pestisida dari pupuk atau produk pembersih hama.

Ganti baju setelah bersentuhan dengan pestisida

Setelah Anda menggunakan pestisida di luar rumah, pastikan untuk tidak membawa sisa-sisa paparannya ke dalam rumah. Oleh karena itu, gantilah pakaian dan alas kaki terlebih dahulu sebelum masuk ke rumah untuk melindungi keluarga dari bahaya pestisida.

 

Pestisida pengusir hama

Pestisida pengusir hama

Pestisida pengusir hama- Pestisida diproduksi memang untuk mengusir hama, gulma, tikus, serangga, jamur, rayap, dsb. Racun pengusir hama pengganggu termasuk insektisida, rodentisida, mitisida, herbisida, larvasida, nematosida, moluskusida, dan fungisida.

Sayangnya bukan hanya organisme pengganggu saja yang terkena dampak racun ini, tapi manusia dapat juga terpapar oleh bahan ini.

Pestisida dapat bersifat racun bagi tubuh, jika tertelan atau terhirup tanpa sengaja. Racun ini juga berbahaya jika terjadi kontak langsung dengan kulit atau mata. Paparan pestisida dapat menimbulkan dampak buruk seperti keracunan akut maupun kronik.

Bahaya Pestisida Bagi Kesehatan Dan Cara Mengatasinya

Insektisida untuk mengusir ngengat dapat menyebabkan gangguan sel darah (hemolisis), jika tertelan.

Kontak langsung dengan mata dapat menyebabkan penglihatan kabur. Pertolongan pertama dengan mencuci mata menggunakan air bersih. Bahan ini juga dapat mengakibatkan gangguan sistem cerna dan otak.

Segera bawa penderita ke rumah sakit, untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat. Insektisida yang beredar di pasaran kini dikemas dengan berbagai variasi bentuk.

Jauhkan dari jangkauan anak-anak, karena mungkin saja mereka menganggapnya sebagai permen. Racun tikus (rodentisida) biasanya berbentuk butiran atau serbuk, sehingga rentan tertelan oleh anak-anak.

Bahan aktif di dalamnya kebanyakan menggunakan zinc phosphide, yang menimbulkan bau tidak sedap. Keracunan rodentisida dapat mengakibatkan muntah, sulit bernafas, paru-paru sesak, turunnya tekanan darah, kerusakan ginjal, detak jantung tidak teratur, atau defisiensi sel darah putih.

Pertolongan pertama terhadap penderita dapat dilakukan dengan menyuruhnya untuk memuntahkan bahan tersebut, serta membawanya ke rumah sakit secepatnya.

Namun tidak semua rodentisida menggunakan zinc phosphide. Racun serangga (insektisida ) pada umumnya digunakan untuk mengusir lalat, nyamuk, semut, atau kecoa. Insektisida dalam bentuk lotion ataupun semprotan biasanya mengandung senyawa aktif yang disebut piretroid dan piretrin.

Keduanya memiliki tingkat racun (toksisitas) yang rendah terhadap manusia. Hal ini disebabkan sistem metabolisme dalam tubuh kita me-nonaktifkan senyawa tersebut dengan cepat.

Tapi anda harus berhati-hati, karena insektisida yang tertelan dapat menyebabkan alergi. Gejalanya seperti batuk, bersin, dan sesak nafas. Kontak langsung dengan kulit dapat menimbulkan iritasi, sehingga kulit menjadi kering.

Jika bahan tersebut tertelan dapat menyebabkan mual atau diare. Jika terhirup lewat hidung dapat mengakibatkan radang kerongkongan atau rhinitis. Bahkan, pada sebagian kasus keracunan dapat menyebabkan serangan asma dan kerusakan sistem syaraf pusat.

Cara mengatasi Pestisida pengusir hama

Segera bawa penderita ke luar ruangan dimana udaranya segar. Jika insektisida berbentuk semprotan mengenai kulit anda, segera cuci kulit anda dengan sabun dan air yang mengalir.

Tips mencegah keracunan pestisida pengusir hama

  1. Baca label yang tertera di kemasan, sebelum menggunakan pestisida untuk membasmi hama.
  2. Taruh di tempat yang jauh dari anak-anak, seperti di dalam lemari khusus atau tempat yang tinggi.
  3. Jauhkan pestisida dari makanan atau minuman.
  4. Musnahkan wadah pestisida setelah isinya habis.
  5. Jangan menyentuh pestisida secara langsung. Gunakan kayu, kemudian cuci tangan anda.

Ketika anda akan menyemprotkan pestisida, pastikan ruangan kosong. Gunakan masker pelindung mulut dan hidung. Nah, itulah bahaya pestisida bagi kesehatan dan cara mengatasinya. Untuk sekedar mengusir nyamuk, sebaiknya menggunakan kelambu di kamar tidur anda.

Terlebih bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, sebisa mungkin hindarkan paparan pestisida dari mereka. Semoga menambah pengetahuan anda, sehingga lebih sehat dan bugar.

 

Penggunaan Pestisida

Pestisida

Penggunaan Pestisida- Penggunaan pestisida yang tidak rasional telah terbukti ikut menimbulkan masalah terhadap ekosistem.

Pestisida adalah bahan-bahan kimia yang digunakan untuk membasmi serangga “insektisida”, tumbuh-tumbuhan “herbisida”, jamur dan lumut “fungisida”, tikus besar dan kecil “rodentisida”, kutu “akarisida”, bakteri “bakterisida”, burung “avisida”, cacing gelang “nematisida”, atau bahan lain yang digunakan untuk membunuh binatang yang tidak dikehendaki, yang sengaja ditambahkan ke lingkungan.

Penggunaan pestisida telah diakui memberi keuntungan bagi manusia, namun mengingat bahaya yang ditimbulkan perlu pertimbangan suatu penggunaan pestisida yang rasional.

Contoh masalah penggunaan pestisida, yaitu sampai tahun 1955 sekitar 100 juta manusia di seluruh dunia terinfeksi oleh malaria, penggunaan insektisida DDT dalam pengendalian nyamuk sebagai vektor penyakit ini, jauh bermanfaat dan mampu menekan angka kematian sampai 6 juta pada 1936 dan sekitar 2,5 juta pada tahun 1970.

Belakangan diketahui bahwa, DDT sangat persisten di alam, sehingga dikhawatirkan muncul jenis nyamuk dengan daya tahan alami yang lebih tinggi terhadap insektisida DDT.

Pestisida cukup beracun untuk mempengaruhi seluruh kelompok taksonomi biota, termasuk makhluk bukan sasaran, sampai batas tertentu bergantung pada faktor fisiologis dan ekologis;

Banyak pestisida tahan terhadap degradasi lingkungan sehingga mereka dapat tahan dalam daerah diberi perlakuan dan dengan demikian keefektifannya dapat diperkuat, namun sebaliknya sifat ini juga memberikan pengaruh jangka panjang dalam ekosistem alamiah.

Senyawa-senyawa yang sangat persisten terdistribusi melalui rantai makanan, seperti insektisida organoklorin, terbukti terdapat pada semua organisme hidup. Residunya telah ditemukan pada jaringan anjing laut dan pinguin di Antartika, dan ikan-ikan di sekitar terumbu karang dan laut dalam, serta pada air susu ibu di seluruh dunia.

DDT misalnya terus-menerus ditemukan pada jaringan lemak manusia pada konsentrasi yang dapat dideteksi, walaupun konsentrasi konsentrasi tersebut cenderung menurun sejak penggunaan insektisida ini mulai dilarang di berbagai negara sejak tahun 1980-an.

Walaupun telah banyak digunakan pestisida dengan efektifitas tinggi dan persistensi rendah, namun karena cara penggunaannya yang tidak sesuai dengan prosedur dan aturan, justru telah terbukti memberikan dampak yang merugikan.

Misal para petani dengan tujuan keuntungan panen, yaitu produk pertanian tidak dimakan hama insekta pada saat dipanen sehingga penampilannya menjadi sangat segar dan menarik, maka para petani justru menyemprotkan insektisida berkali- kali sebelum waktu panen tiba.

Tindakan ini menyebabkan konsentrasi insektisida yang tinggi pada produk pertanian “sayuran atau buah- buahan”, yang pada akhirnya akan merugikan kesehatan manusia.

Bahan kimia pestisida pertama kali diklasifikasikan berdasarkan fungsi dan penggunaan utamanya, seperti insektisida “pembasmi serangga”, fungisida “pembasmi jamur”, dan sebagainya. Selanjutnya, berdasarkan klasifikasi di atas, berbagai senyawa pestisida dikelompokkan berdasarkan hubungan dan kemiripan dari struktur dan kandungan bahan kimianya.

  1. Insektisida

Secara luas terdapat empat kelompok besar insektisida yaitu: organoklorin, organofosfat, karbamat, dan senyawa sintetik botani dan derivatnya.

Kelas kedua dari insektisida adalah golongan organofosfat. Organofosfat umumnya adalah racun pembasmi serangga yang paling toksik secara akut terhadap binatang bertulang belakang, seperti ikan, burung, kadal/cicak, dan mamalia. Kenyataannya insektisida organofosfat lebih banyak ditemukan sebagai penyebab keracunan pada manusia. Pada umumnya insektisida organofosfat lebih mudah terurai di lingkungan ketimbang golongan organoklorin.

Organofosfat juga dapat merangsang timbulnya efek neurotoksik, yang menyerupai efek kecanduan alkohol, diabetes atau berbagai kecanduan obat-obatan.

Senyawa fosfor organik lain memiliki kemampuan untuk meningkatkan potensi “toksisitas” insektisida ini, dengan cara menghambat kerja mekanisme penawar racun tubuh.

Kelompok ketiga dari insektisida adalah golongan karbamat. Golongan ini paling banyak digunakan di dunia. Kerja insektisida karbamat adalah hampir sama dengan organofosfat, yaitu menghambat kerja enzim asetil kolinesterase.

  1. Herbisida

Herbisida digunakan untuk membasmi rumput liar dalam pertanian, perkebunan dan pertamanan. Herbisida berbeda-beda dalam selektivitasnya, persisten dalam jaringan dan lingkungan, dan kemampuan untuk diserap oleh tumbuhan.

  1. Fungisida

Jamur merupakan parasit pada organisme hidup, mendapatkan makanan dengan melakukan penetrasi ke dalam jaringan pejamu. Fungisida digunakan untuk mencegah perusakan oleh jamur pada tanaman seperti, kentang, apel, kacang tanah, dan tomat. Penggunaan fungisida bisa dengan cara penyemprotan langsung ke tanaman, injeksi batang, pengocoran pada akar, perendaman benih dan pengasapan (fumigan).

Fungisida dapat membahayakan manusia dan berbagai organisme non jamur, terutama bila paparannya terjadi dalam dosis tinggi. Residu anti jamur yang terdapat pada bahan-bahan pertanian juga bisa membahayakan. Karenanya, aplikasi bahan ini sangat disarankan agar sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.

Golongan fungisida yang terbukti memiliki efek toksik sangat tinggi biasanya sudah dilarang pemerintah, contoh fungisida dengan bahan aktif vinclozolin.

Paparan Pestisida

paparan pestisida

Paparan pestisida- Hari ini kita sering abai dengan makanan yang mengandung zat pestisida. Sayur dan buah adalah di antaranya.

Padahal zat pestisida sangat berbahaya jika terus masuk ke dalam tubuh. Zat pestisida yang terkandung dalam sayur dan buah dapat menyebabkan penyakit seperti obesitas, diabetes dan kanker.

Berikut ini manfaat yang bisa kamu dapatkan jika mengonsumsi sayuran  organik:

Antioksidan

Pada dasarnya sayur dan buah memiliki kandungan antioksidan yang berguna untuk kesehatan tubuh. Khusus untuk kedelai, terdapat zat insoflavon yang bermanfaat untuk memperbaiki dan mencegah sel tubuh yang rusak.

Mencegah Penyakit Jantung

Zat isoflavon dalam tubuh tidak hanya berfungsi sebagai peremajaan sel, tapi juga mengurangi kolestrol “jahat” yang mampu membekukan darah. Pembekuan pada darah inilah yang menyebabkan penyakit stroke dan jantung.

Mencegah Kanker

Isoflavon juga bertindak sebagai zat antikanker. Zat ini akan melindungi tubuh dari kanker seperti di rahim, payudara dan prostat.

Mengontrol Berat Badan

Kandungan serat yang tinggi dalam kedelai dapat membuat kita tidak mudah lapar. Indeks glisulin yang terdapat dalam kedelai mampu mengontrol gula darah dan fluktuasi insulin.

Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa makanan organik sama dengan makanan alami. Padahal, kedua makanan ini memiliki perbedaan yang tergolong signifikan, lho!

Agar Anda tidak bingung, berikut penjelasan singkat mengenai perbedaan makanan organik dan makanan alami:

Makanan Organik

Makanan organik adalah produk nabati atau hewani yang diproduksi dan diolah tanpa melakukan perubahan kimiawi atau sintetik dalam bentuk apa pun. Dengan kata lain, makanan jenis ini tidak mengandung zat sintetik untuk pestisida, penyubur, atau zat lain dalam produksinya.

Selain yang sudah disebutkan, produksi makanan organik juga tidak boleh sembarangan. Ada aturan-aturan dari badan pengawas produksi makanan di negara tempat produksinya. Misalnya, produksi makanan organik di Indonesia harus memenuhi sederet aturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI).

Makanan Alami

Penggunaan istilah ‘alami’ pada makanan ini belum tentu sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Meski jenis makanan ini juga menggunakan bahan sintetik sangat minimal, tidak ada standar yang mengatur pengolahannya.

Lalu, mana yang terbaik? Makanan organik dan makanan alami, keduanya dapat bermanfaat bagi kesehatan. Anda dapat menyertakan makanan-makanan tersebut dalam menu sehari-hari untuk menjalani diet yang sehat.

Sekarang Anda sudah tahu kan bedanya makanan organik dan makanan alami? Untuk lebih meyakinkan Anda tentang status keamanan produk makanan organik, Anda bisa dengan mudah memeriksanya dengan memasukkan nomor registrasi produk tersebut pada situs BPOM RI

Yang perlu kita catat baik-baik rata-rata makanan sehat itu asalnya dari bahan-bahan yang organik. Tetapi biaya menghasilkan sayur, buah, beras, dan bahan makanan lain yang organik itu tidaklah kecil. Alias mahal. Kenapa ?

  1. Bebas  Paparan pestisida

Sudah menjadi rahasia umum kalau makanan organik itu pasti lebih sehat. Soalnya produk organik itu bebas paparan pestisida dan pupuk sintesis. Petani organik hanya memakai kompos atau pupuk kandang. Artinya, nggak bakalan ada logam berat yang masuk dan membahayakan tubuh.

Sejatinya, kompos atau pupuk kandang untuk tanaman organik itu lebih mahal. Tapi, karena petani organik itu sayang sama kita, jadi mereka nggak sungkan menguras kantong untuk membelinya.

Nah, karena manusia itu pada dasarnya harus saling mengasihi, jadi kita membalas kasih sayang ini dengan membeli produk mereka tanpa mengeluh. Apalagi kalau kamu penggemar produk sehat dan organik. Hehe.

  1. Sertifikat organik

Salah satu yang bikin makanan sehat itu lebih mahal adalah karena pihak pembudidaya diwajibkan memiliki sertifikat organik. Nah, untuk mengurus biaya sertifikasi pangan organik ini, satu kelompok petani harus membayar Rp15 – 30 juta! Dan masa berlakunya pun relatif pendek, yaitu tiga tahun. Biaya memperpanjang sertifikasi itu bisa mencapai Rp12 juta.

  1. Biaya Produksi

Makanan sehat atau organik itu biasanya memiliki kemasan yang berbeda dari produk konvensional yang diproduksi secara masal dan menggunakan plastik. Sedangkan produk organik menggunakan kemasan yang berbeda. Misalnya, dari bahan kaca dan dapat didaur ulang. Makanya biaya produksinya pun jadi lebih tinggi.

  1. Standar tinggi

Khusus untuk produk daging, misalnya, peternak organik biasanya memberlakukan standar yang lebih tinggi dalam membudidayakan hewan ternak. Misalnya, dari kesejahteraan hewan itu sendiri. Biasanya, peternakan organik memberi pakan yang juga organik. Dan harganya juga bisa dua kali lipat dibandingkan dengan pakan biasa.

  1. Lebih banyak tenaga kerja

Untuk menekan biaya produksi, banyak petani atau pertanian konvensional yang memakai zat kimia dan pestisida. Tujuan lainnya adalah efisiensi dan agar pekerjaan lebih cepat selesai.

Akan tetapi, cara kerja petani organik itu berbeda, guys. Karena rohnya adalah bebas paparan pestisida, pertanian organik membutuhkan lebih banyak tenaga kerja untuk menyiangi rumput liar, membersihkan air, ataupun memulihkan tanaman dari kontaminasi pestisida.

 

 

Bahaya Pestisida

Bahaya Pestisida sintetis tidak hanya berdampak pada lingkungan saja. Namun Penggunaan pestisida ini juga berdampak pada kesehatan. Pestisida yang dimakan oleh manusia menjadi faktor untuk memperbesar resiko berbagai penyakit. Apa saja bahayanya?

Bahaya Pestisida pada Reproduksi

Atrazine adalah salah satu zat pestisida untuk membasmi gulma atau biasa disebut sebagai Herbisida. Atrazine diteliti oleh ilmuwan ternyata menyebabkan kemandulan pada pria.maupun wanita. Atrazine menyebabkan meningkatnya resiko keguguran dan mobilitas sperma menurun.

Bahaya Pestisida menyebabkan Perubahan Hormon

Paparan pestisida secara terus menerus selama 20 sampai dengan 30 tahun dapat menyebabkan perubahan hormon pria dan wanita. Seorang anak laki-laki menjadi kehilangan sifat maskulin, begitu juga dengan wanita yang kehilangan sifat feminimnya.

Pestisida menyebabkan Diabetes

Herbisida menyebabkan meningkatnya resiko diabetes, terutama Diabetes Mellitus Gestasional. Diabetes Mellitus Gestational (GDM) adalah diabetes yang muncul ketika kehamilan. Seorang ibu yang menderita GDM ketika kehamilan semakin tinggi resiko Diabetes dan berdampak pada Anak yang dilahirkan.

Kanker

Lebih dari 260 pestisida berkaitan erat dengan berbagai jenis kanker. Baik itu limfoma, leukemia, sarcoma, jaringan lunak, otak, kanker hati, dan kanker paru-paru.

Anak Autis

Insektisida adalah racun untuk melemahkan dan mengacaukan syaraf hama serangga. Jika tertelan oleh ibu hamil serta terakumulasi dapat mempengaruhi janin. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2010 oleh Universitas Harvard menunjukkan urin yang mengandung pestisida berbahan aktif organofosfat pada anak-anak lebih mungkin mengalami ADHD dan hiperaktif dibanding urin pada anak-anak yang tidak tercemar pestisida.

Obesitas

Environmental Health Perspectives menyatakan bahwa lebih dari 50 jenis pestisida diklasifikasikan sebagai pengganggu hormon, di antaranya dapat memicu sindrom metabolik dan obesitas. Hormon adalah bagian terpenting dari tubuh untuk mengatur metabolisme. Jika terganggu maka homesostasis tubuh terganggu juga.

dan masih banyak lagi bahaya dari pestisida yang tertelan dari makanan yang kita makan.

Masih ingin makan makanan yang mengandung banyak pestisida? Bahaya Pestisida tidak hanya di generasi sekarang tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
Berikan yang terbaik untuk keluarga Anda. Agar mereka sehat dan sebagai wujud curahan cinta dan kasih sayang Anda.